Tampilkan postingan dengan label Zoologi Vertebrata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zoologi Vertebrata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2011

Filosofi ayam kampung Jangan ditiru


        Suatu hari sepulang dari kampus saya merasa capek banget , maklumlah sebagai mahasiswa biologi yang memiliki segudang aktivitas pasti sering mengalaminya.Sepanjang jalan pulang saya terus berharap semoga bisa langsung beristirahat yang nyaman setelah sampai dirumah. Setelah berjalan 10 menit dari kampus akhirnya sampai juga  di kamar kecilku.

       Sepatuku langsung kubuka dan langsung kurebahkan tubuh ini, tak peduli lagi untuk berganti pakaian dan makan, yang penting saya bisa tidur secepatnya. Bahkan kamarku pun tak sempat lagi saya kunci, maklumlah saat itu cuaca juga sangat panas.

       Akupun mulai merasakan kenyamanan tidurku,”akh.. enaknya tidur kalau badan sangat capek” gumamku. Sekitar 10 menit kemudian tiba-tiba saja dari luar kamarku seekor ayam betina berkotek dengan kerasnya. Sontak aku terbangun mendengar suara ayam tersebut menyahut-nyahutan semakin banyaknya. Suara kotekan ayam tersebut semakin lama semakin keras membuatku marah karena telah mengganggu tidurku. Huft,”baru tidur udah diganggu” ujarku berbisik.

       Akupun keluar kamar untuk melihat kegaduhan diluar kamarku. Aku melihat kea rah pot bunga dan melihat seekor telur kecil diatasnya, “oh… ayam ini baru saja bertelur kayaknya, baru 1 butir dan kecil saja sudah ribut dan mengganggu orang” kataku. Ayam ini mengganggu saja, pastinya bukan cuman saya yang terganggu, tetapi orang lain disekitarku juga pasti terganggu. Tapi sejenak saya berpikir, saya bisa belajar dari kisah ini.

Filosofi ayam kampung Jangan ditiru

Apa yang bisa kita petik dari cerita saya diatas? Coba lihat ayam tersebut, baru bertelur 1 butir saja sudah berkoar-koar dengan bangganya sampai tidurku ternganggu. Perilaku ayam tersebut sebaiknya jangan ditiru, jangan sombong ketika sudah berkarya. Banyak orang sombong dengan karyanya sekarang, baru membuat 1 karya kecil sudah bangganya luar biasa, dipamerkan kemana-mana. Padahal belum tentu juga karyanya berguna bagi banyak orang bukan?. OLeh karena itu saya sarankan kepada para seniman dan orang orang yang suka berkarya untuk tidak sombong, dan tetaplah terus berkarya. Semoga filosofi ini bermanfaat


Kamis, 21 April 2011

Ular King Kobra (Ophiophagus hannah) Raja Ular Berbisa

Ular king kobra atau Ophiophagus hannah sering dianggap sebagai raja ular berbisa yang paling mematikan. Padahal bisa ular king kobra yang di Indonesia disebut juga ular tedung atau ular anang, menurut beberapa sumber yang dilansir Alamendah, dianggap tidak sebahaya gigitan ular kobra atau ular sendok (Naja sp.) dan ular welang (Bungarus fasciatus). Penamaan king kobra (raja kobra) lebih kepada ukurannya yang merupakan ular berbisa terpanjang dan jumlah bisa terbanyak di dunia.
Ular king kobra di Indonesia dikenal juga sebagai ular tedung, ular anang, ular lanang (Jawa), oray totog (Sunda), ular tedung abu, tedung selor (Kalimantan). Nama hewan ini dalam bahasa Inggris selain king kobra disebut juga sebagai hamadryad.
Dalam bahasa latin ular king kobra dinamai Ophiophagus hannah (Cantor, 1836) dengan berbagai sinomin diantaranya Dendraspis bungarus (Schlegel), Dendraspis hannah (Cantor), Hamadryas elaps Günther, Hamadryas hannah Cantor, Hamadryas ophiophagus Cantor, Naja bungarus Schlegel, Naja hannah (Cantor), Naja ingens Van Hasselt, Naja vittata Elliott, dan Ophiophagus elaps(Günther).
Ular King Kobra (Ophiophagus hannah)
Ular King Kobra (Ophiophagus hannah) saat menegakkan lehernya
Diskripsi, Ciri, dan Perilaku. Ular king kobra merupakan ular berbisa terpanjang dengan panjang tubuh hingga mencapai 5 meter, meskipun umumnya hanya sekitar 3-4 meter saja. Ciri khas ular ini adalah saat terancam mampu menegakkan dan memipihkan lehernya, meskipun kemampuan ini juga dipunyai oleh ular sejenis dari genus Naja sp. yang di Indonesia sering disebut ular sendok.
Di Indonesia king kobra memiliki ciri umum berwarna hitam atau coklat tua dengan bagian kepala yang cenderung berwarna lebih terang. Sisik bawah tubuh berwarna keabuan atau kecoklatan, kecuali dada dan leher yang berwarna kuning cerah atau krem dengan pola belang hitam tak teratur, yang nampak jelas ketika ular ini mengangkat dan membentangkan lehernya.
Makanan ular king kobra atau anang adalah berbagai jenis ular baik yang berbisa maupun tidak dan kadal. Ular ini berburu dengan mengandalkan indera penciuman dan penglihatannya yang tajam. Konon dengan kedua indera itu ular king kobra mampu mengawasi mangsanya dari jarak 100 meter.
Ular king kobra merupakan ular berbisa yang memiliki racun berjenis haemotoxcin dan neurotoxcin. Racun ini menyerang sistem saraf dan menimbulkan rasa sakit yang amat sangat, pandangan yang mengabur, vertigo, dan kelumpuhan otot. Kemudian korban akan mengalami kegagalan sistem kardiovaskular, yang jika dibiarkan dapat mengakibatkan kematian. Namun berbeda dengan ular sendok (Naja sp.) ular king kobra tidak dapat menyemburkan bisanya.
Kemampuan mengeluarkan bisa ular king kobra atau tedung juga sangat besar dan jauh lebih banyak dari ular sejenis. Dalam satu kali gigitan ular ini dapat mengeluarkan sejumlah bisa yang cukup untuk membunuh hingga 10 orang sekaligus bahkan seekor gajah sekalipun. Meskipun biasanya jarang mengeluarkan kesemua bisanya dalam sekali gigitan.
Persebaran, Habitat, dan Konservasi. Sebagaimana dilansir Alamendah’s Blog dari situs IUCN Redlist, ular king kobra tersebar mulai dari India di barat, Bhutan, Bangladesh, Burma, Kamboja, Cina selatan, Laos, Thailand, Vietnam, Semenanjung Malaya, Kepulauan Andaman, Indonesia dan Filipina. Di Indonesia, ular king kobra atau ular tedung dapat dijumpai di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi).
Ular king kobra menghuni aneka habitat, mulai dari hutan dataran rendah, rawa-rawa, semak belukar, hutan pegunungan, lahan pertanian, perkebunan, persawahan, dan daerah pemukiman. Mampu hidup mulai dari daerah dekat pantai hingga ketinggian 1.800 m dpl.
Populasinya semakin hari semakin menurun akibat kerusakan habitat utamanya yang disebabkan oleh berkurangnya luas hutan. Karena itu king kobra terdaftar dalam status vulnerable IUCN Redlist dan Apendiks II CITES.
Satu yang pasti, meskipun ular king kobra, tedung, anang, lanang, oray totog, ataupun hamadryad namanya, meskipun memiliki bisa mematikan dan cenderung agresif, tetapi Alamendah yakin ular bernama latin Ophiophagus hannah ini hanya akan menyerang manusia jika merasa terganggu, terancam, dan terpojok. Makanya tidak usah bermain-main dengan ular dan biarkan mereka bercumbu di alam liar dengan bebas.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Reptilia; Ordo: Squamata; Famili: Elapidae; Genus: Ophiophagus; Spesies: Ophiophagus hannah.
Referensi dan gambar:
  • www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/177540/0
  • reptile-database.reptarium.cz/species.php?genus=Ophiophagus&species=hannah
  • id.wikipedia.org/wiki/Ular_anang
  • www.aussiepythons.com/gallery/image/2478 (gambar)

Selasa, 05 April 2011

Chilko, Salmon Paling Tahan Perubahan Iklim

Sungai Fraser di British Columbia, Kanada, merupakan kawasan tempat berhuninya lebih dari 100 spesies ikan salmon. Banyak di antara spesies itu sudah sangat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Akibatnya, perubahan kecil sekalipun, misalnya pada temperatur air, aliran sungai, atau perubahan ketinggian menjadi malapetaka bagi mereka.


http://media.vivanews.com/thumbs2/2011/04/04/108218_chilko-salmon--spesies-ikan-yang-mampu-beradaptasi-dengan-kanaikan-suhu-air-_300_225.jpg

Tapi tidak demikian bagi Chilko salmon. Ia terbukti lebih tahan dibanding spesies salmon lainnya terhadap perubahan lingkungan dan perubahan iklim. Saat diamati, Chilko salmon, yang namanya diambil dari nama kawasan di mana mereka berkembang biak, mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Sebagai informasi, sungai Fraser, yang memiliki panjang sekitar 2 ribu kilometer saat ini suhunya sudah naik hingga 2 derajat dibandingkan dengan kondisi di tahun 1950-an dengan kondisi terburuk terjadi selama 20 tahun terakhir.

Menurut data University of British Columbia, jutaan ekor salmon bermigrasi ke hulu sungai untuk berkembang biak. Tetapi jumlahnya terus menurun sejak tahun 1990-an. Selain itu, siklus migrasi juga menjadi penyebab kematian alami di mana 40 sampai 95 persen ikan tewas.

“Perubahan iklim telah mengacaukan lingkungan sungai. Sejumlah populasi salmon tidak mampu segera beradaptasi sehingga mereka tidak dapat bertahan,” kata Erika Eliason, ketua tim peneliti dari University of British Columbia, seperti dikutip dari Cosmosmagazine.

Dari penelitian, saat temperatur air naik ke titik tertentu, kemampuan salmon untuk berenang menurun. Diperkirakan, kenaikan suhu air mengakibatkan menurunnya kemampuan sistem peredaran darah ikan. Lalu, apa yang menyebabkan Chilko salmon mampu bertahan?

“Kami yakin kemampuan Chilko salmon diakibatkan oleh kondisi migrasi mereka yang jauh lebih berat dibanding salmon lain,” kata Eliason.

Menurut peneliti, tiap spesies salmon mengikuti satu rute migrasi tetap dari sejumlah rute migrasi yang memiliki perbedaan jarak, temperatur, ketinggian, dan arus air. Sebagian spesies mengambil jalur mudah, namun jalur yang diambil Chilko salmon sangat sulit.

Chilko salmon harus berenang dengan jarak lebih dari 650 kilometer, naik dengan ketinggian 1 kilometer, dan melewati kawasan yang disebut sebgai Hell’s Gate di mana sungai mengalir deras melalui kawasan yang menyempit hingga hanya seleber 35 meter.

Selain terbiasa menempuh rute ekstrim, Chilko juga ternyata kurang terpengaruh terhadap perubahan temperatur dan perubahan lingkungan lain. Tidak seperti Weaver salmon yang sangat sensitif.

Dari penelitian lebih lanjut, diketahui bahwa Chilko memiliki jantung paling besar dan sistem cardio-respiratory yang jauh lebih kuat dibanding seluruh spesies ikan yang diamati peneliti.

“Chilko mampu berenang pada variasi temperatur yang lebih tinggi dibanding salmon lain di sungai tersebut,” kata Eliason.

“Kami berkesimpulan bahwa kemampuan ini disebabkan karena mereka mampu beradaptasi untuk mengatasi jalur migrasi mereka yang sulit. Untuk itu kami menyebutnya sebagai ikan super”, ucapnya.

Sumber :
teknologi.vivanews.com

Minggu, 20 Maret 2011

ikan Langka Yang Memiliki Tangan

Ikan ini jarang ditemukan di lepas pantai Tasmania dan Australia. Para handfish langka yang soliter, makhluk yang bergerak lambat. Mereka menggunakan sirip mereka untuk berjalan di dasar laut.


 National Geographic memiliki serangkaian artikel tentang ikan ini, yang terlihat begitu jarang bahwa itu sulit bagi para ilmuwan untuk mempelajarinya. Hanya ada 14 spesies handfish, dan mereka bertelur sangat sedikit. Sebagian besar terancam punah.

Mereka makan dengan sangat lambat berkeliaran di dasar laut, makan cacing dan krustasea. Meskipun mereka membuat sasaran empuk bagi predator, mereka berhasil melarikan diri dimakan karena mereka memiliki kulit yang sangat beracun.