Tampilkan postingan dengan label Botani Tumbuhan Rendah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Botani Tumbuhan Rendah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2012

Lumut (Bryophyta)

Lumut (Bryophyta)

Lumut banyak dijumpai di lingkungan sekitar kita, misalnya di atas tebing, kulit kayu, tembok basah, di atas pohon. Koloni lumut ada yang seperti beledru hijau menempel pada tanah atau tebing, ada yang seperti lembaran daun, ada yang seperti panu pada kulit pohon, ada pula yang bergelantungan dari atas pohon. Di pohon di daerah lembab banyak bergantungan lumut yang sering disebut sebagai moss.

Contoh lumut yang koloninya berbentuk seperti beledru hijau adalah Polytrichum. Sedangkan di tebing-tebing banyak dijumpai talus lumut berbentuk lembaran pipih seperti daun, yang disebut lumut hati (Musci).

Reproduksi Lumut

Lumut berkembang biak dengan dua cara yaitu secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dilakukan melalui fragmentasi dan pembentukan tunas. Reproduksi secara seksual dilakukan melalui peleburan gamet jantan dan betina. Gamet jantan dihasilkan oleh anteridium. Anteridium menghasilkan sperma. Gamet betina dihasilkan oleh arkegonium. Arkegonium menghasilkan ovum. Sperma bergerak menuju ovum melalui medium air, misal ketika ada air hujan. Hasil peleburan sperma dan ovum adalah zigot. Zigot tumbuh menjadi protonema. Selanjutnya protonema tumbuh menjadi tumbuhan lumut.

Klasifikasi Lumut

Divisi Lumut (Bryophyta) dibedakan menjadi 3 kelas yaitu:

1) Kelas 1 : Lumut Hati (Hepaticopsida) misalnya Marchantia yang berbentuk lembaran-lembaran

2) Kelas 2 : Lumut Tanduk (Antocerotopsida) misalnya Anthoceros

3) Kelas 3 : Lumut Sejati (Bryopsida) misalnya Polytrichum, yang berbentuk beledru hijau dan Sphagnum, yang hidup di pohon-pohon.

Dalam siklus hidupnya tumbuhan lumut mengalami 2 fase yaitu: generasi gametofit (menghasilkan gamet atau sel kelamin) dan generasi sporofit (menghasilkan spora). Divisi Bryophyta terdiri dari 3 kelas yaitu: 1). Hepaticopsida / Hepaticea (lumut hati, 2). Anthocerotopsida / Anthocerotae (lumut tanduk), dan 3). Bryopsida / Mnium (lumut sejati atau lumut daun).

clip_image002

Gambar 3.1 Tanaman Lumut

(www cartage.org.lb)

Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Tumbuhan paku hidup di habitat yang lembab, baik di tanah, batu, di tepi sungai atau di pohon. Contoh paku yang hidup di tanah basah adalah semanggi (Marsilea crenata), sedang contoh yang hidup di air adalah Azolla pinnata. Ada pula paku yang menempel di pohon-pohon. Misalnya simbar menjangan, picisan. Di pegunungan terdapat paku yang bentuknya seperti pohon palm yaitu Alsophilla. Pohonnya digunakan sebagai tempat untuk memelihara anggrek.

Ciri-ciri Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus artinya sudah memiliki akar, batang, dan daun sejati. Ciri utama tumbuhan paku adalah pada waktu masih muda daunnya menggulung. Tumbuhan paku sudah memiliki pembuluh angkut yaitu xylem dan floem. Pembuluh angkut tesebut terdapat di akar, batang dan daun. Pembuluh xilem berfungsi mengangkut air dan garam-garam mineral dari akar menuju daun, sedangkan pembuluh floem bertugas mengangkut hasil-hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tubuh. Di daun, ikatan pembuluh itu nampak sebagai tulang-tulang daun.

Reproduksi tumbuhan paku dilakukan secara aseksual dan seksual secara bergiliran. Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan menghasilkan spora. Selain sebagai tempat berfotosintesis, daun paku digunakan sebagai penghasil spora. Spora dihasilkan di permukaan daun sebelah bawah. Spora berada di dalam kotak spora atau sporangium. Kotak spora terkumpul di dalam wadah yang dikenal dengan nama sorus. Coba amatilah sporangium paku dengan mengambil bagian hitam pada sorus tersebut, kemudian amati di bawah mikroskop.

Gambar 4.13. : Sorus Paku pada daun

Spora dihasilkan oleh fase tumbuhan paku. Karena itu tumbuhan paku disebut fase sporofit. Jika jatuh di tempat lembab, spora tumbuh menjadi protalium. Protalium bentuknya seperti lembaran, mirip bentuk jantung. Protalium berklorofil. Ukurannya tiga sampai lima Cm. Protalium menghasilkan anteridium dan arkegonium. Karena itu protalium disebut fase gametofit. Anteridium adalah organ reproduksi yang menghasilkan sperma dan arkegonium menghasilkan ovum. Pertemuan sperma dan ovum menghasilkan zigot. Zigot tumbuh menjadi tumbuhan paku baru.

Tumbuhan paku diklasifikasi ke dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Tumbuhan Paku Kawat: misalnya Selaginella yang banyak di tanam di pot.

2. Tumbuhan Paku Biji: misalnya Equisetum (Paku Ekor Kuda). Banyak tumbuh di pegunungan. Bentuknya seperti daun cemara.

3. Tumbuhan Paku Sejati

Banyak dijumpai di lingkungan, terutama di tempat lembab dan becek. Bentuknya beranekaragam. Misalnya suplir, pakis, paku tiang yang batangnya besar seperti palm. Ada yang hidup bebas di alam, ada yang hidup epifit di atas pohon. Hidup epifit adalah hidup menumpang tetapi tidak merugikan inangnya. Ada jenis tertentu yang daunnya dapat disayur.

clip_image004

Gambar 3.2 Tanaman Paku (www.lemondedesphasmes.free.fr)

Jamur

Jamur juga merupakan organisme pembusuk yang penting dalam menghancurkan sisa-sisa tumbuhan dan hewan. Juga banyak jamur yang merugikan kita karena menyebabkan penyakit pada manusia, misalnya penyakit panu, kadas, dan keputihan. Jamur juga banyak yang menjadi musuh petani karena menyebabkan kebusukan pada akar, batang, daun dan buah tanaman.

Apakah jamur itu? Jamur atau kulat (bahasa Madura, Melayu) atau fungi merupakan organisme bersel tunggal atau ada pula yang bersel banyak. Jamur bersifat eukariotik, dan tidak berklorofil. Sel jamur memiliki dinding yang tersusun atas khitin. Karena sifat-sifatnya itu, yaitu mengandung kitin, eukariotik dan tidak berklorofil, jamur dikelompokkan dalam Kingdom tersendiri yaitu Kingdom Fungi. Hal ini disebabkan karena jamur tidak dapat dikelompokkan ke dunia hewan maupun tumbuhan.

Karena tidak berklorofil, jamur tidak dapat hidup secara autotrof, melainkan harus hidup secara heterotrof. Jamur hidup dengan jalan menguraikan bahan-bahan organik yang ada di lingkungannya; misalnya hidup secara saprofit, artinya hidup dari penguraian sampah-sampah organik misalnya bangkai, sisa tumbuhan, makanan, kayu lapuk, menjadi bahan-bahan anorganik.

Jamur uniseluler misalnya ragi atau Saccharomyces dapat mencerna tepung hingga terurai menjadi gula, dan gula dicerna menjadi alkohol. Sedangkan jamur multiseluler misalnya jamur tempe dapat menguraikan protein kedelai menjadi protein sederhana dan asam amino. Bagaimana cara sel-selnya menguraikan bahan makanan itu? Jamur tidak memasukkan molekul-molekul besar ke dalam sel-selnya. Makanan itu dicerna di luar sel sehingga disebut pencernaan ekstraseluler, seperti pada bakteri. Caranya, sel-sel jamur mengeluarkan enzim pencernaan. Enzim-enzim itulah yang bekerja menguraikan molekul-molekul kompleks menjadi molekul-molekul sederhana. Jika sudah tercerna, zat makanan itu masuk ke dalam selnya secara osmosis. Osmosis adalah berpindahanya zat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah melalui membran.

Karena kemampuannya menguraikan bahan organik itulah maka jamur tergolong pengurai. Demikian pula bakteri. Tanpa adanya pengurai, niscaya lingkungan kita dipenuhi oleh sampah, bangkai, dan bahan-bahan organik lainnya yang tak teruraikan.

Jamur multiseluler terbentuk dari rangkaian sel membentuk benang seperti kapas, yang disebut benang hifa. Dilihat dengan mikroskop, hifa ada yang bersekat-sekat melintang. Tiap-tiap sekat merupakan satu sel, dengan satu atau beberapa inti sel. Ada pula hifa yang tidak bersekat melintang, yang mengandung banyak inti dan disebut senositik. Ada tidaknya sekat melintang ini dijadikan salah satu dasar dalam penggolongan jamur. Kumpulan hifa membentuk jaringan benang yang dikenal sebagai miselium. Miselium inilah yang tumbuh menyebar di atas substrat dan berfungsi sebagai penyerap makanan dari lingkungannya. Selain itu, hifa ada yang berfungsi sebagai pembentuk alat reproduksi. Misalnya, hifa yang tumbuh menjulang ke atas menjadi sporangiofor yang artinya pembawa sporangium. sporangium artinya kotak spora. Di dalam sporangium terisi spora. Ada pula hifa yang tumbuh menjadi konidiofor yang artinya pembawa konidia, yang dapat menghasilkan konidium. Pengertian konidium akan dijelaskan kemudian.

Jamur diklasifikasikan berdasarkan cara reproduksi dan struktur tubuhya. Dalam pustaka lama yang menggunakan sistem dua kingdom, fungi dimasukkan dalam kingdom plantae. Dalam sistem 4 kingdom, fungi merupakan kingdom tersendiri dengan lima filum/divisi. Tetapi dalam sistem lima kingdom, seperti yang digunakan dalam buku ini, jamur lendir dan jamur air tidak dimasukkan sebagai jamur, tetapi merupakan protista. Karena itu filum yang masuk dalam kingdom fungi adalah filum/divisi Phycomycota, Ascomycota, Basidiomycota dan Deuteromycota.

1. Phycomycota

Sebelum mempelajari jamur Phycomycota, lakukan kegiatan pengamatan strktur jamur tempe, sebagai contoh jamur anggota Phycomycota. Jamur yang tumbuh di tempe adalah Rhizopus sp. Di permukaan tempe kita dapati bentukan seperti kapas berwarna putih, itulah miselium Rhizopus. Jamur tempe merupakan salah satu contoh filum Phycomycota. Tubuh Phycomycota terdiri dari benang-benang hifa yang bersekat melintang, ada pula yang tidak bersekat melintang. Hifa bercabang-cabang banyak, dan dinding selnya mengandung kitin.

Selain yang hidup saprofit di tempe, Phycomycota ada yang hidup saprofit pada roti, nasi, dan bahan makanan yang lain. Ada pula yang hidup parasit misalnya penyebab penyakit busuk pada ubi jalar dan murbei.

2. Ascomycota

Ciri khusus dari jamur Ascomycota adalah dapat menghasilkan spora askus (askospora), yaitu spora hasil reproduksi seksual, berjumlah 8 spora yang tersimpan di dalam askus. Untuk mengetahui bentuk dan struktur askus dibutuhkan pengamatan yang teliti. Ukuran tubuh Ascomycota yang mikroskopis (satu sel), ada pula yang makroskopik (dapat dilihat dengan mata). Golongan jamur ini ada yang hidup saprofit, ada pula yang parasit dan ada pula yang bersimbiosis.

Ascomycota saprofit banyak yang dimanfaatkan untuk pembuatan tape, kecap, oncom, roti, dan ada pula yang diambil produknya karena menghasilkan antibiotika misalnya penisilin, dan streptomisin. Di sekitar kita sering kita jumpai jamur ini tumbuh pada biji kacang, roti, atau makanan lain. Di bekas bonggol jagung bakar atau di bekas kayu terbakar sering kita dapati jamur berwarna oranye yang menarik. Contoh Ascomycota saprofit adalah Penicillium sp, penghasil penisilin, Saccharomyces atau ragi. Contoh ragi yang terkenal adalah Saccharomyces cerevisae yang digunakan untuk mengembangkan roti. Ragi ini dapat mengubah gula menjadi alkohol dan karbon dioksida. Karbon dioksida yang terbentuk itulah yang dapat mengakibatkan terjadinya pengembangan pada adonan kue. Jika kalian menyimpan air tapai di dalam botol tertutup dan dibiarkan terus hingga seminggu, maka botol akan meledak karena tekanan dari karbon dioksida yang dihasilkannya. Air nira juga banyak mengandung Saccharomyces. Gelembung-gelembung udara yang keluar dari nira adalah gas karbon dioksida. Jika dibiarkan berminggu-minggu, air nira yang mula-mula berbau alkohol akan berubah menjadi asam cuka, yang masam rasanya. Ini disebabkan karena alkohol yang terbentuk diubah menjadi asam cuka oleh bakteri asam cuka. Berikut disajikan reaksi penguraian glukosa menjadi alkohol oleh Saccharomyces:

C6H12O6 -------> 2C2H5OH + 2CO2 + tenaga

(gula/glukosa) (alkohol) (karbon dioksida)

Jamur Penicillium hidup secara saprofit. Kadang-kadang di­jum­pai pada roti, kentang, kacang, atau makanan busuk lainnya. Konidianya berwarna hijau kebiruan. P. notatum dan P. chrysogenum menghasilkan zat mematikan yakni antibiotika yang disebut penisilin. Antibiotik artinya anti hidup. Untuk mendapatkan penisilin, orang mengkultur jamur tersebut pada substrat yang cocok. Lihat Gambar 4.15.

Antibiotika penisilin ba­nyak digunakan untuk mem­berantas penyakit akibat infeksi oleh mikroba pada manusia. Hanya saja obat ini dapat menimbulkan kekebalan pada bibit penyakit jika digunakan kurang dari dosis anjuran dokter.

Penicillium berkembangbiak secara vegetatif dengan membentuk konidia. Konidia dibentuk pada ujung hifa. Hifa pembawa konidia disebut konidiofor. Setiap konidium dapat tumbuh membentuk jamur baru

Ascomycota parasit dapat menimbulkan penyakit baik pada manusia, tumbuhan maupun binatang. Contoh yang dapat mengakibatkan penyakit pada manusia adalah Saccharomyces yang mengakibatkan epitel mulut putih pada anak-anak yang disebut saccharomycosis,

3. Basidiomycota

Selain dua kelompok jamur yang telah kalian pelajari, masih ada jamur yang ada di lingkungan kalian yang strukturnya berbeda dengan dua kelompok jamur tadi. Ambilah jamur merah dan jamur kuping, bawa ke laboratorium dan lakukan kegiatan sebagai berikut. Jamur Basidiomycota umumnya merupakan jamur makroskopik, dapat dilihat karena ukurannya besar. Pada musim penghujan dapat kita temukan pada pohon, misalnya jamur kuping, jamur pohon, atau di tanah yang banyak mengandung bahan organik, misalnya jamur barat.

Basidiomycota ada yang dibudidayakan misalnya jamur merang dan jamur kuping. Jamur merang merupakan makanan yang bergizi tinggi.

Selain mengandung gizi, ada pula jamur yang mengandung racun dan mematikan. Jamur Amanita merupakan contoh jamur beracun yang mematikan itu. Hati-hati jika kalian mendapatkan jamur liar di hutan untuk dimakan. Guna memastikan apakah jamur itu beracun atau tidak, coba berikan terlebih dahulu ke binatang, misalnya ke ayam. Jika ayam itu mati berarti jamur itu beracun.

Contoh-contoh jamur Basidiomycota:

1) Volvariela volvacae (jamur merang) dan Agaricus sp, banyak dibudi­dayakan orang untuk masakan. Jamur ini ditanam pada media yang banyak mengandung selulosa, serta memerlukan kelembapan yang tinggi.

2) Auricularia polytricha (jamur kuping), hidup saprofit pada kayu yang lapuk. Warnanya coklat kehitaman, sering digunakan untuk sup. Saat ini juga telah banyak dibudidayakan.

3) Pleurotes (jamur kayu). Juga dapat dimakan. Di alam, jamur ini tumbuh di kayu lapuk. Untuk menanamnya diperlukan media dari serbuk gergaji.

4) Amanita phalloides (jamur beracun). Hidup di tanah, berwarna putih atau merah.

5) Exobasidium vexans, hidup parasit pada tanaman teh.

6) Corticium salmonella (jamur upas), hidup parasit pada batang pohon buah-buahan, dan karet.

C. Lumut Kerak

Pernahkah kalian melihat lumut kerak atau Lichenes (ada yang menyebutnya Liken) yang berwarna perak, menempel pada pohon seperti kerak? Lichen bukan satu spesies lumut, jadi kalian jangan rancu dengan lumut yang nanti di bahas dalam bab berikutnya. Liken sebenarnya terdiri dari dua jenis organisme, yaitu jamur dan ganggang yang hidup bersimbiosis. Begitu kompaknya mereka bersimbiosis membentuk talus sehingga seakan-akan menyatu menjadi satu organisme. Liken merupakan simbiosis antara jamur dari golongan Ascomycota atau Basidiomycota dengan Ganggang hijau atau Cyanobancteria satu sel.

Talus liken yang hidup menempel pada batang pohon biasanya ber­bentuk lembaran tipis, seperti kerak. Talus ini tersusun atas miselium yang kompak di sebelah luar, dan hifa yang tidak kompak di sebelah da­­lam. Di antara hifa tersebut terdapat sel-sel ganggang.

Sebagaimana kita ketahui, jamur hidup secara heterotrof, sedangkan ganggang hidup secara autotrof. Jamur memperoleh makanan dari hasil fotosintesis ganggang. Cyanobacteria dalam liken juga berfungsi sebagai pengikat Nitrogen. Sedangkan jamur menyediakan lingkungan yang baik bagi ganggang. Lingkungan yang baik adalah menyediakan air, mineral pertukaran gas dan perlindungan terhadap ganggang. Liken menyerap mineral yang dibutuhkannya dari udara, debu atau air. Seandainya terpisah, ganggang ataukah jamur yang dapat hidup mandiri? Jawabannya pasti ganggang bukan? Coba cari alasannya dengan berdiskusi dengan teman-temanmu! Jamur tidak dapat hidup sendiri karena tergantung kepada keberadaan ganggang. Akan tetapi kenyataannya, keduanya saling tergantung dan tidak dapat hidup sendiri-sendiri.

Reproduksi seksual liken dilakukan sendiri-sendiri. Artinya, baik jamur maupun ganggang melakukan reproduksinya sendiri. Jamur membentuk ascokarp atau basidiokarp, yang di dalamnya ada spora. Jika spora masak akan terlepas, terbawa angin ke mana-mana. Jika jatuh di tempat yang cocok dan bertemu dengan ganggang, maka akan membentuk Liken baru.

Reproduksi aseksual liken dilakukan dengan cara fragmentasi. Fragmen (potongan) liken induk terlepas, jika jatuh ditempat yang cocok akan tumbuh menjadi individu baru. Reproduksi aseksual juga dilakukan dengan membuat struktur khusus yang disebut soredia, yakni beberapa sel ganggang yang terbungkus oleh hifa yang terdapat pada permukaan talus Liken. Itulah sebabnya mengapa di permukaan talus liken terdapat bentukan seperti serbuk memutih seperti tepung. Itulah soredia. Sel-sel ganggang ini dapat terlepas dan jika jatuh di tempat yang cocok akan tumbuh menjadi liken baru.

Kalian pasti telah melihat liken di daerahmu masing-masing. Liken yang talusnya tipis seperti kerak itu tergolong dari jenis Parmelia. Selain itu ada pula Liken yang tergantung di dahan pohon, seperti jenggot, memanjang, ukurannya lebih besar, Liken ini dari jenis Usnea.

Ganggang

Ganggang masuk dalam kingdom Protista, karena ciri-cirinya: tubuh tersusun atas satu sel atau banyak sel tetapi yang banyak sel ini sel-selnya tidak berdiferensiasi membentuk jaringan khusus. Ganggang atau sering pula disebut alga dapat ditemukan di air tawar, air laut, menempel pada tempat-tempat yang basah atau lembap. Kalau kalian menemukan air di akuarium atau kolam berwarna hijau, warna itu disebabkan oleh warna dari ganggang. Seringkali ganggang juga mengakibatkan lantai kamar mandi berwarna hijau dan air di sawah berwarna hijau atau kuning. Kadang-kadang lantai yang ditumbuhi ganggang terasa licin, karena koloni ganggang menghasilkan lendir.

Seringkali kita salah kaprah menyebut ganggang dengan nama “lumut”, padahal yang kita maksud sebenarnya adalah ganggang. Tumbuhan lumut banyak dijumpai di atas batubata berwarna hijau seperti beludru. Lumut tidak digolongkan ke dalam kingdom protista tetapi pada kingdom Plantae (tumbuhan).

Bentuk tubuh ganggang ada yang bersel tunggal (uniseluler) dan ada yang tubuhnya tersusun atas banyak sel (multiseluler). Ukuran tubuhnya ada yang mikroskopis, misalnya pada ganggang hijau dan ganggang keemasan, tetapi ada pula yang dapat dilihat dengan mata telanjang, misalnya ganggang coklat dan ganggang merah. Ganggang yang multiseluler ada yang berbentuk seperti benang, lembaran, dan koloni sel-sel. Sel-sel ganggang dikelilingi oleh dinding sel sehingga memiliki bentuk yang tetap. Inti sel (nukleus) merupakan jenis eukarion, artinya nukleusnya diselubungi oleh membran nukleus.

Di dalam sel ganggang terdapat berbagai plastida, yaitu organela sel yang mengandung zat warna (pigmen). Plastida yang terdapat pada ganggang terutama adalah kloroplas. Kloroplas mengandung pigmen klorofil yang berperan penting dalam proses fotosintesis. Oleh sebab itu, ganggang bersifat autotrof artinya dapat menyusun makanan sendiri yang berupa zat organik dari zat-zat anorganik.

Di lingkungan perairan di sekitar kita terdapat banyak sekali ganggang. Perairan yang berwarna hijau seringkali banyak ditumbuhi ganggang hijau. Perairan yang berwarna kekuning-kuningan banyak ditumbuhi ganggang keemasan. Lakukan kegiatan berikut untuk mengenal dan mengidentifikasi ganggang apa saja yang ada di perairan di lingkungan kalian. Ganggang hijau dan ganggang kekemasan banyak terdapat disekitar kita. Sedangkan ganggang api, ganggang coklat dan ganggang merah lebih banyak ditemukan di air laut. Oleh sebab itu jika kalian ingin mengamati bagaimana bentuk, rupa, struktur dan ciri-ciri ganggang ganggang api, ganggang coklat dan ganggang merah, kalian perlu pergi ke laut. Ajaklah gurumu ke laut untuk mengamati ganggang yang ada di laut.

Berdasarkan pigmen yang dikandungnya ganggang dibedakan menjadi beberapa Ganggang hijau, ganggang coklat, ganggang keemasan, dan ganggang merah.

1. Ganggang Hijau (Chlorophyta)

Sebagian besar (90%) Ganggang hijau hidup di air tawar dan hanya 10% yang hidup di air laut. Ganggang hijau merupakan bagian dari plankton air tawar dan laut. Plankton adalah organisme kecil yang hidup melayang-layang dalam air, yang merupakan makanan hewan-hewan air dan ikan. Selain itu, Ganggang hijau ada yang hidup melekat pada tanah yang basah, tembok yang lembap, pada batang tumbuhan lain bahkan juga ada yang hidup melekat pada tubuh hewan.

Coba amatilah kolam atau tanah lembap di sekitar kalian. Niscaya kalian akan mendapati Ganggang hijau yang dalam jumlah banyak mengakibatkan air berwarna hijau, atau ada yang berbentuk benang melayang di air. Jika terkena cahaya matahari, kumpulan ganggang ini akan mengeluarkan gas. Mengapa mengeluarkan gas? Gas apakah yang dikeluarkan itu? Coba diskusikan dengan teman kalian.

Sel-sel ganggang hijau dikelilingi oleh dinding sel, sehingga memiliki bentuk yang tetap. Di dalam sel terdapat kloroplas yang bentuknya bermacam-macam, ada yang berbentuk spiral, mangkuk, lembaran, bola, dan bintang. Kloroplasnya mengandung klorofil, sehingga ganggang hijau berwarna hijau. Jenis klorofil yang terkandung adalah klorofil a dan b juga karoten dan xantofil.

Di dekat kloroplas terdapat pirenoid, berbentuk bulat, dan berwarna terang. Pirenoid adalah rongga yang berfungsi sebagai tempat penyimpan cadangan makanan berupa amilum.

Reproduksi Ganggang Hijau (Ganggang hijau)

Ganggang hijau berreproduksi secara vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual). Reproduksi vegetatif dilakukan tanpa melalui persatuan sel kelamin (gamet); sedang reproduksi generatif dilakukan dengan melalui persatuan sel gamet, yakni sel gamet jantan dan betina.

1. Reproduksi Secara Vegetatif

Reproduksi secara vegetatif dilakukan dengan pembelahan biner, membentuk zoospora, dan fragmentasi.

a) Pembelahan biner; dilakukan oleh ganggang hijau bersel satu.

b) Fragmentasi; dilakukan oleh ganggang berbentuk benang atau ganggang berkoloni. Fragmentasi adalah pemotongan benang atau koloni kemudian terlepas dari induknya dan tiap potongan akan tumbuh menjadi individu baru.

c) Pembentukan Zoospora; Ganggang hijau dapat menghasilkan zoospora. Zoospora adalah spora yang dapat bergerak dengan berenang, menggunakan flagela. Zoospora sering juga disebut sebagai spora kembara, karena dapat mengembara kian kemari di dalam air.

2. Reproduksi Secara Generatif

Reproduksi secara generatif pada ganggang hijau dilakukan dengan konjugasi. Konjugasi dilakukan sebagai berikut: mula-mula dua benang ganggang saling bertempelan. Dua sel yang berdekatan saling membentuk tonjolan. Apabila tonjolan itu saling melebur akan terbentuk saluran konjugasi. Melalui saluran konjugasi ini isi sel dari yang satu mengalir ke yang lain. Isi sel itu berupa inti dan sitoplasma. Kedua isi sel itu melebur membentuk zigot. Selanjutnya zigot tumbuh membentuk benang baru atau membentuk zigospora.

Beberapa ganggang hijau ada yang dapat menghasilkan gamet jantan yang disebut spermatozoid dan gamet betina yang disebut ovum. Pertemuan sperma dan ovum menghasilkan zigot yang dapat tumbuh menjadi ganggang baru. Lihat Gambar 3.4.

Contoh-contoh Ganggang hijau

Berikut ini adalah contoh beberapa jenis ganggang hijau yang sering dijumpai dari kolam di sekitarmu.

a) Chlorella

Organisme ini banyak ditemukan sebagai plankton air tawar. Kalian dapat menangkapnya dengan menggunakan jala plankton (plankton net). Ukuran tubuhnya mikroskopis. Bentuk selnya bulat dan memiliki sebuah kloroplas berbentuk mangkuk. Per­kembangbiakan vegetatif dilakukan dengan pembelahan sel, tiap sel menghasilkan 4 sel anak.

Chlorella digunakan dalam penyelidikan metabolisme di laboratorium. Saat ini Chlorella banyak ditanam di kolam-kolam (misal di Pasuruan) digunakan sebagai bahan untuk obat-obatan, bahan kosmetik dan bahan makanan. Serbuk Chlorella itu dimasukkan ke dalam kapsul untuk dijual. Pernahkan kalian melihat atau memakan Chlorella dalam bentuk kapsul?

b) Chlorococcum

Ganggang bersel satu ini juga banyak ditemukan di air tawar dan juga di tanah yang basah. Tubuhnya bersel satu dan ukurannya mikroskopis. Selnya berbentuk bulat telur. Setiap sel memiliki satu kloroplas berbentuk mangkuk dengan sebuah pirenoid.

Reproduksi aseksual dengan membentuk zoospora. Dalam satu sel dapat dibentuk 8 atau 16 sel zoospora. Zoosporanya bergerak dengan dua flagela.

c) Chlamydomonas

Bentuk sel Chlamydomonas bulat telur dan memiliki 2 flagela yang berfungsi sebagai alat gerak. Di dalam sel terdapat satu vakuola, satu nukleus, dan kloroplas. Pada kloroplas terdapat stigma (bintik mata) dan pirenoid sebagai tempat pembentukan zat tepung.

Reproduksi aseksual dengan membentuk zoospora dan reproduksi seksual dengan konjugasi. Perhatikan bentuk sel dan daur hidupnya pada Gambar 3.5 di halaman

d) Euglena

Bentuk sel Euglena lonjong, memiliki satu alat gerak yakni flagela, dan memiliki bintik mata. Inti selnya tunggal dan memiliki kloroplas. Euglena yang berwarna hijau itu biasanya nampak bergerak aktif di dalam air karena memiliki flagela. Keistimewaan ganggang ini adalah memiliki bintik mata atau stigma. Para ahli zoologi menganggap Euglena adalah binatang dan memasukkannya dalam filum Protozoa, karena dapat bergerak dan berbintik mata. Para ahli botani menganggap Euglena adalah tumbuhan dan memasukkannya dalam divisi Clorophyta, karena memiliki klorofil. Coba lihat Bab Protozoa. Lihat Gambar 3.6.

e) Volvox

Volvox dapat ditemukan di air tawar, koloninya berbentuk bola dengan jumlah sel antara 500–50.000 buah. Meskipun demikian, ukurannya mikroskopis, hanya dapat diamati dengan mikroskop. Tiap sel memiliki 2 flagela dan sebuah bintik mata. Reproduksi aseksual dengan fragmentasi dan seksual dengan konjugasi sel-sel gamet. Lihat Gambar 3.8.

f) Spirogyra

Ganggang ini mudah didapatkan di perairan sekitar kita. Tubuhnya tersusun atas sel-sel yang membentuk untaian memanjang seperti benang. Dalam tiap sel terdapat kloroplas berbentuk pita spiral dan sebuah inti.

Reproduksi vegetatif dengan fragmentasi, sedangkan reproduksi seksual dengan konjugasi. Adapun langkah-langkah konjugasi adalah sebagai berikut. Dua benang saling berdekatan; sel-sel yang berdekatan saling membentuk tonjolan. Ujung kedua tonjolan yang bersentuhan saling melebur membentuk saluran. Lewat saluran itu terjadilah aliran protoplasma (sitoplasma dan inti sel) dari satu sel ke sel yang lain. Kedua plasma melebur disebut plasmogami. Segera diikuti oleh peleburan inti yang disebut kariogami. Hasil peleburan membentuk zigospora diploid. Zigospora mengalami meiosis dan di tempat yang sesuai berkembang menjadi benang Spirogyra baru yang haploid (n).

3. Ganggang Keemasan (Chrysophyta)

Anggota ganggang keemasan ada yang hidup di air tawar dan ada yang hidup di air laut. Tubuhnya ada yang bersel tunggal dan ada yang bersel banyak. Ganggang ini memiliki klorofil (pigmen hijau) dan xantofil (pigmen kuning). Karena itu warnanya hijau kekuningan. Contohnya Vaucheria dan Diatom.

Tubuh Vaucheria tersusun atas banyak sel yang berbentuk benang (filamen) yang bercabang tetapi tidak bersekat. Filamen tersebut memiliki banyak inti dan disebut senosit. Filamen ini juga memiliki alat kelamin jantan atau anteridium dan alat kelamin betina atau oogonium. Anteridium menghasilkan spermatozoid dan oogonium menghasilkan ovum. Hasil fertilisasi berupa zigot. Selanjutnya zigot tumbuh membentuk filamen baru. Reproduksi vegetatif dengan mem­bentuk zoospora. Zoospora terlepas dari induknya, mengembara dan apabila jatuh di tempat yang cocok akan tumbuh menjadi filamen baru.

Diatom banyak dijumpai di atas permukaan tanah basah misalnya di sawah, got, atau parit. Tanah yang banyak mengandung diatom berwarna kuning keemasan. Kalian dapat mengambil lapisan tanah tadi untuk diamati di bawah mikroskop. Tubuhnya uniseluler dan ada pula yang berkoloni. Dinding sel tersusun atas dua belahan yaitu kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka). Jadi seperti kotak tempat pensil. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara membelah diri. Contoh: Navicula, Pinnularia, dan Cyclotella.

4. Ganggang api (Pyrrhophyta)

Kebanyakan anggota Pyrrhophyta disebut Dinoflagellata. Anggota Pyrrhophyta adalah organisme yang tubuhnya tersusun atas satu sel, dapat bergerak aktif, selnya berdinding. Ciri utamnya adalah di sebelah luar sel terdapat celah dan alur, masing-masing mengandung satu flagel. Dinding sel berupa lempengan selulosa berbentuk poligonal yang bersambungan sangat rapat. Di dalam sel terdapat plastida yag mengandung klorofil dan pigmen coklat kekuning-kuningan.

Pyrrhophyta berkembang biak dengan membelah diri. Dinoflagellata kebanyakan hidup di laut, sebagian kecil hidup di air tawar. Contoh Pyrrhophyta adalah Peridinium. Purrhophyta yang hidup di laut bersifat fosforesensi, yaitu memiliki fosfor yang memendarkan cahaya.

5. Ganggang Coklat (Phaeophyta)

Ganggang coklat bentuk tubuhnya menyerupai tumbuhan tinggi, dengan panjang sampai beberapa meter. Dikatakan menyerupai tumbuhan tinggi karena memiliki alat yang bentuknya mirip akar, batang dan daun. Sebagian besar hidup di air laut. Seringkali terdampar di pantai. Tubuhnya melekat pada batu-batuan dengan alat pelekat (semacam akar), sedangkan talusnya terapung di air laut. Ganggang ini berwarna kecoklatan karena memiliki pigmen fikosantin di samping klorofil. Contohnya adalah Sargassum yang banyak tumbuh di laut Sargasso. Contoh yang lain adalah Macrocystis, Ectocarpus, dan Fucus.

Meskipun melekat di dasar, tetapi talus Fucus banyak mengandung gelembung udara sebagai alat pengapung. Selain itu, gelembung udara juga mengandung cadangan udara untuk respirasi. Kalian yang sering rekreasi ke pantai paasti pernah menemukan ganggang coklat ini. Warnanya coklat, mempunyai gelembung-gelembung udara mirip “buah”. Ganggang ini sering terdampar di pantai. Lihat Gambar 3.13.

Reproduksi vegetatif dengan fragmentasi. Reproduksi generatif dengan cara membentuk alat kelamin yang disebut sebagai konseptakel jantan dan konseptakel betina. Di dalam konseptakel jantan terdapat anteridium yang menghasilkan spermatozoid. Dan di dalam konseptakel betina terdapat arkegonium yang menghasilkan ovum. Spermatozoid membuahi ovum membentuk zigot.

6. Ganggang Merah (Rhodophyta)

Rhodophyta hidup di laut. Bentuk tubuhnya seperti rumput, sehingga sering disebut sebagai rumput laut (seaweed). Tubuhnya bersel banyak dan berbentuk seperti lembaran. Warna tubuhnya merah karena di sam­ping mengandung pigmen klorofil juga mengandung pigmen fikoeritrin.

Reproduksi seksual dengan peleburan antara spermatozoid dan ovum menghasilkan zigot. Zigot tumbuh menjadi ganggang merah yang diploid. Contohnya adalah Eucheuma spinosum dan Gelidium, Kallimenia, dan Scinata. Eucheuma spinosum merupakan penghasil agar-agar di Indonesia sedangkan Gellidium merupakan penghasil agar-agar di daerah dingin. Lihat Gambar ........

Manfaat Ganggang Bagi Kehidupan Manusia

Ganggang merupakan fitoplankton (plankton tumbuhan) yang berfungsi sebagai makanan ikan. Daerah yang kaya plankton merupakan daerah perairan yang kaya akan ikan. daerah yang kaya plankton biasanya adalah daerah perairan laut dangkal dan banyak cahaya matahari.

Ganggang renik yang hidup di perairan tergolong fitoplankton. Dalam ekosistem perairan ganggang merupakan produser primer, yaitu sebagai penyedia bahan organik dan oksigen bagi hewan-hewan air seperti ikan, udang, dan serangga air. Keberadaan produser mengundang kehadiran konsumer, predator dan organisme lain yang membentuk ekosistem perairan. Pada ekosistem perairan yang kaya akan unsur hara banyak hidup plankton di dalamnya dan karenanya banyak hewan air seperti ikan dan udang yang hidup di peraairan tersebut. Di kolam atau tambak, para petani sering memberi pupuk agar populasi plankton meningkat. Planton ini dijadikan makanan bagi ikan yang dipelihara. Hutan bakau di pantai yang banyak dikunjungi burung memiliki ekosistem perairan yang kaya ikan. Kotoran burung yang jatuh menyuburkan air laut, sehingga populasi plankton meningkat dan selanjutnya plankton-plankton tersebut menjadi makanan ikan.

Dinding sel diatom banyak mengandung silikat. Sisa-sisa dinding sel diatom yang hidup jutaan tahun yang lalu membentuk lapisan tanah yang dikenal sebagai tanah diatom. Tanah diatom dapat dimanfaatkan sebagai bahan penggosok, isolasi, bahan dasar industri kaca, dan penyaring (karena berpori).

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, terdapat ganggang yang menghasilkan protein atau bahan makanan lain. Spirillum misalnya merupakan ganaggang yang menghasilkan protein. Ganggang demikian sedang dikembangkan untuk produksi bahan pangan di masa yang akan datang. Demikian pula agar-agar yang saat ini telah banyak dikonsumsi masyarakat. Selain itu ganggang ada yang berpotensi untuk kosmetik, obat-obatan.

Tabel. Beberapa ciri penting pada beberapa filum ganggang

Ganggang

Warna yang dominan (pigmen untuk fotosintesis

Jumlah dan letak flagel

Komponen dinding sel

Habitat

Ganggang hijau

Hijau (Klorofil a dan b, karoten)

2 atau lebih, terletak diujung

Selulosa

Sebagian besar air tawar dan sedikit di laut

Ganggang Keemasan

Keemasan (Klorofil a dan c, karoten, xantofil)

1 atau 2 di ujung

Senyawa pektin dengan silika

Sebagian besar di air tawar

Ganggang Coklat

Coklat

1 di tengah, 1 di ujung

selulosa

di laut dan air tawar

Ganggang Api

Coklat (Klorofil a dan c, karoten, xantofil)

2 ditengah hanya pada sperma

Selulosa dan beberapa polisakarida

Air laut

Ganggang Merah

Merah kehitaman (Klorofil a, karoten, fikobilin, dan beberapa mengan-dung klorofil d)

Tidak ada

Selulosa dan beberapa polisakarida

Sebagian besar di laut

Rangkuman

Sabtu, 26 November 2011

Divisi Pteridophyta (Tumbuhan paku)

       Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan derah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 diantaranya tumbuh di Indonesia). Sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembab. Tumbuhan ini cenderung tidak tahan dengan kondisi air yang terbatas. merupakan kelompok tumbuhan tyang berklorofil, hidup sebagai saprofit dan ada yang epifit. Tumbuhan paku menyukai tempat yang lembab (higofit) yaitu dari daerah pantai hingga sekitar kawah.
       Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Tubuhnya dapat dibedakan dengan jelas antara akar, batang dan daun. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril di sekelilingi organ reproduksi. Sistem transport internal, hidup di tempat yang lembab. Akar serabut berupa rhizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis, korteks, dan silindris pusat (terdapat xilem dan floem).
Ciri-ciri khusus tumbuhan paku antara lain :
1. Akar berupa :
    - Rhizoid : pada generasi gametofit
    - Akar serabut : pada generasi sporofit
    - Struktur anatomi akar :
                       a. pada bagian ujung dilindungi oleh kaliptra
                       b. Di belakang kaliptra terdapat titik tumbuh akar berbentuk bidang empat yang aktivitasnya keluar membentuk kaliptra sedangkan ke dalam membentuk sel-sel akar.
                        c. Pada silinder pusat terdapat fasisi (berkas pembuluh angkut) bertipe konsentris (xilem dikelilingi floem).
2. batang berupa :
     - Prothalium pada generasi gametofit
     - batang sejati pada generasi sporofit
     - Struktur anatomi batang :
                          a. Epidermis : mempunyai jaringan penguat yang terdiri dari atas sel-sel sklerenkim.
                            b. Korteks : banyak mengandung lubang (ruang antar sel).
                            c. Silender pusat : terdiri dari xilem dan floem yang membentuk berkas pengangkut bertipe konsentris.
3. Daun
     - Berdasarkan ukurannya, dibedakan menjadi dua yaitu :
                             a. Daun mikrofil : ukurannya kecil, hanya setebal selapis sel dan berbentuk rambut.
                              b. Daun mikrofil : ukuran besar dan tipis, sudah memiliki bagian-bagian daun seperti tulang daun, tangkai daun, mesofil dan epidermis.
      - Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi dua yaitu :
                                a. Daun tropofil : untuk fotosintesis
                                b. Daun sporofil : penghasil spora
       - Spora berkumpul di sporangium. Sporangium bisa terdapat pada strobilus, sorus, atau sinagium. Setiap sporangium dikelilingi oleh sederetan sel yang membentuk bangunan seperti cincin yang disebut annulus yang berfungsi sebagai mengatur pengeluaran spora.
        - Spora berkumpul dalam badan yang disebut sorus. Sorus yang masih muda dilindungi oleh selaput sel yang disebut Indisium.
4. Generasi sporofit lebih dominan dan hidup bebas, sedangkan generasi gametofit tereduksi. Generasi sporofit ini lebih dikenal dengan tumbuhan paku.
5. Berdasarkan spora yang dihasilkan, ada tiga jenis tumbuhan paku, yaitu :
      - paku Homospor/Isopor : menghasilkan satu jenis spora saja dan mempunyai ukuran yang sama besar . Contoh : paku kawat atau  ground pine Lycopodium clavatum. Spora dari paku ini dikenal sebagai lycopodium powder yang dapat meledak di udara apabila terkumpul dalam jumlah cukup banyak.
      - Paku heterospor : menghasilkan dua jenis aspora yaitu : mikrospora (jantan) dan makrospora (betina). Contoh : paku rane (selaginella wildenowii) dan semanggi (Marisilea crenata).
        - paku peralihamn ; menghasilkan spora yang bentuk dan ukurannya sama (isospora) tetapi sebagian  jantan dan sebagian betina (jenisnya berbeda = heterospora). Contoh : paku ekor kuda (Equisetum debile).

Reproduksi Tumbuhan Paku
       Reproduksi tumbuhan paku secara vegetatif dengan rhizoma dan membentuk spora secara generatidf dengan pembentukan gamet. Tumbuhan paku mengalami pergiliran (metagenesis) yaitu pergiliran keturunan antara generasi sporofit (penghasil spora) dengan generasi gametofit (penghasil gamet). Proses metagenesis tumbuhan paku sbb:
a. Generasi Sporofit
   - Spora dihasilkan oleh kotak spora yang disebut sporangium
   - Sporangium berkumpul dalam satu badan yang disebut dengan sorus yang terdapat dalam sporofil.
   - Spora keluar dari sporangium dan bila jatuh di tempat yang cocok akan terjadi pembuahan dan terbentuk zigot.
   - Zigot akan tumbuh berkembang menjadi sporofit dan berkembang sporofit dewasa.
b. Generasi gametofit
    - Pada generasi gametofit, protalium membentuk anteridium sebagai alat kelamin jantan dan menghasilkan spermatozoa sedangkan arkhegonium sebagai alat kelamin betina yang menghasilkan ovum.
    - Hasil peleburan antara sperma dan ovum menghasilkan zigot yang kemudian tumbuh menjadi tumbuhan paku baru yang memiliki akar, batang, dan daun.

Siklus Hidup Spora Pterydophyta
1. Skema Metagenesis Paku Homospor/isospor
S1

2. skema Metagenesis Paku Heterospor
S2

c. Skema metagenesis Tumbuhan paku peralihan
S3

Jumat, 25 November 2011

Divisi Thallophyta

        Thallophyta merupakan kelompok tumbuhan yang mempunyai ciri utama yaitu tubuh berbentuk talus. Tumbuhan talus merupakan tumbuhan yang struktur tubuhnya masih belum bisa dibedakan antara akar,batang dan daun. Sedangkan tumbuhan yang sudah dapat dibedakan antara akar,batang dan daun disebut dengan tumbuhan kormus.
       Ciri-ciri dari tumbuhan talus ini adalah tersusun oleh satu sel yang berbentuk bulat hingga banyak sel yang kadang-kadang mirip dengan tumbuhan tingkat tinggi (sudah mengalami diferensiasi). Perkembangbiakan pada umumnya secara vegetatif ( aseksual) dan generative (seksual) dengan spora sebagai alat perkembangbiakannya. Perkembangbiakannya secara generative terjadi melalui peleburan gamet yang terbentuk di dalam organ yang disebut gametangium. Cara hidup pada tumbuhan talus ada tiga cara yaitu : autotrof (asimilasi dengan fotosintesis), heterotrof dan simbiosis.
Divisi thallophyta dibedakan menjadi 3 anak divisi, antara lain :
  1. 1. Ganggang atau algae
  2.        Ganggang termasuk tumbuhan bertallus, tidak memiliki akar, batang dan daun sejati. Ganggang ada yang bersel satu dan bersel banyak, bersifat eukariotik, ada yang hidup melayang-layang (neustonik) dan ada yang di dasar air (bentik). Habitat di air tawar, air laut dan daerah-daerah yang lembab, reproduksi dilakukan secara seksual 9konjugasi, anisogami, isogami) atau aseksual . Tubuh alga terdapat berbagai zat warna (pigmen) yaitu :
  3. - Klorofil : Warna hijau
  4. - Fikosantin : warna perang/cokelat
  5. - fikoeritrin ; warna merah
  6. - Keroten : warna keemasan
  7. - Xantofil : warna kuning
  8. Berdasarkan pigmennya, ganggang dapat dibedakan menjadi 4 yaitu :
  9. -  chlorophyta (ganggang hijau )
  10. Chrysophyta ( ganggang keemasan)
  11. -  Phaeophyta (ganggang coklat/perang)
  12. -  rhodophyta (ganggang merah)
  13. 2. Jamur atau fungi
  14.        Jamur merupakan organisme uniseluler maupun multiseluler (umumnya berbentuk benang disebut hifa, hifa bercabang-cabang membentuk bangunan seperti anyaman disebut miselium, dinding sel mengandung kitin, eukariotik, tidak berklorofil. Hidup secara  heterotrof dengan jalan saprofit (menguraikan sampah organik). parasit (merugikan organisme lain), dan simbiosis. Habitat jamur secara umum terdapat di darat dan tempat yang lembab. Jamur uniseluler dapat berkembangbiak dengan dua cara yaitu vegetatif dapat dilakukan dengan cara membentuk spora, membelah diri, kuncup (budding). Secara generatif dengan cara membentuk spora askus. Sedang untuk jamur multiseluler reproduksi vegetatif dengan cara fragmentasi, konidium, zoospora. Secara generatif dapat dilakukan dengan cara konjugasi, hifa yang akan menghasilkan zigospora, spora askus, spora basidium.
Klasifikasi jamur
Kingdom fungi dapat dibagi menjadi 6 divisi yang berbeda dalam hal struktur hifa dan struktur penghasil spora, yaitu sbb:
a. Myxomycotina (jamur lendir)
b. Oomycotina
c. Zygomycotina (kelas zygomycetes)
d. Ascomycotina
e. basidiomycotina
3. Lumut kerak atau Lichenes
       Lumut kerak merupakan Simbiosis antara jamur dari golongan Ascomycotina atau basidiomycotina (mikobion) dengan Chlorophyta atau Cyanobacteria bersel satu (fikobion). tumbuhan ini tergolong tumbuhan perintis yang ikut berperan dalam pembentukan tanah. lumut kerak bersifat endolitik karena dapat masuk pada bagian pinggir batu. Dalam hidupnya lichenes tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan terhadap kekurangan air dalam jangka waktu yang lama. Lichenes yang hidup pada batuan dapat menjadi kering karena teriknya matahari, tetapi tumbuhan ini tidak mati, dan jika turun hujan bisa hidup kembali.
Klasifikasi lichenes
Berdasarkan komponen cendawan yang menyusunnya :
a. Aslichenes
b. Basidiolichenes
c. Lichen imp[erfect

Berdasarkan alga yang menyusun thalus :
a. Homoimerus
b. Heteromerous